Artikel Ilmiah


Emisi gas rumah kaca

Dampak yang ditimbulkan oleh emisi rumah kaca bagi kesehatan manusia ?

emisi gas yang berasal dari hasil bakaran dalam kegiatan manusia merupakan konsekuensi kehidupan sehari-hari di planet bumi ini. Emisi gas yang terjadi, pun bukan semata-mata berasal dari kegiatan manusia, tapi juga dari proses alami. Gas yang diemisikan secara alami ini, merupakan bagian dari proses daur ulang yang selalu terjadi secara dinamik dalam rangka menuju keseimbangan alamiah. Selama jumlah emisi gas hasil bakaran itu masih dalam batas-batas kesanggupan alam mendaur-ulangkan kembali, emisi gas tidak akan mengganggu secara nyata kehidupan di bumi. Namun, apabila peningkatan gas akibat kegiatan manusia telah melampau kepasitas daur ulang alami, tentu saja menyebabkan penumpukan gas, tidak hanya pada lingkungan mikro, tetapi juga telah menyebabkan goyahnya keseimbangan lingkungan makro, di antaranya dalam bentuk pemanasan global yang secara tidak langsung berakibat pada kesehatan masyarakat.

Peneliti di Cina telah menemukan bukti tambahan bahwa tumbuh-rumbuhan mengemisikan metana – sebuah gas rumah-kaca potensial – dalam jumlah yang signifikan. Disamping itu temuan-temuan terbaru juga menunjukkan bahwa emisi metana tergantung tidak hanya pada spesies tanaman, tetapi juga pada kondisi dimana mereka tumbuh.

Metana adalah hidrokarbon paling sederhana yang berbentuk gas dengan rumus kimia CH4 . Metana murni tidak berbau, tapi jika digunakan untuk keperluan komersial, biasanya ditambahkan sedikit bau belerang untuk mendeteksi kebocoran yang mungkin terjadi. Sebagai komponen utama gas alam , metana adalah sumber bahan bakar utama. Pembakaran satu molekul metana dengan oksigen akan melepaskan satu molekul CO2 ( karbondioksida ) dan dua molekul H2O ( air )
Meskipun hasil-hasil yang dilaporkan tidak konsisten, penelitian-penelitian selanjutnya mendukung bahwa tumbuh-tumbuhan bisa mengemisikan gas rumah-kaca – tetapi emisi tersebut tergantung pada spesies tanaman. Pada bulan November 2007, Zhi-Ping Wang dari Akademi Sains Cina, Beijing, dan rekan-rekannya menunjukkan emisi metana dari 44 spesies tanaman yang berasal dari padang rumput bersuhu sedang di Mongolia Pusat. Meski tak satupun dari 35 spesies tumbuhan herba yang diteliti menghasilkan metana, namun tujuh dari sembilan spesies semak benar-benar mengemisikan gas metana.
Akan tetapi, penelitian terbaru yang dilakukan oleh Xingliang Xu dan rekan-rekannya di Akademi Sains Cina bertentangan dengan temuan tersebut. Dengan meneliti kawasan padang rumput di pegunungan Tibet, Xu menemukan bahwa spesies semak menyerap metana dari udara, sedangkan dua spesies rumput herba adalah pengemisi gas metana, yang menghasilkan sebagian besar metana di atmosfir kawasan tersebut.
Tetapi Keppler mengatakan dia tidak setuju kalau penelitian-penelitian ini dikatakan bertentangan, dan menunjuk pada lingkungan alami yang berbeda dimana tanaman tumbuh. "Ini hanya menunjukkan bagaimana kompleksnya sistem tanaman hidup," kata Keppler ke Chemistry World. "Sekarang kita tahu bahwa tingkat emisi yang berbeda tidak hanya tergantung pada spesies tanaman tetapi juga kondisi lingkungan dan faktor gangguan".
Keppler saat ini sedang meneliti mekanisme yang digunakan tanaman untuk menghasilkan metana, dan baru-baru ini dia menggunakan kajian-kajian isotop untuk menunjukkan bahwa pektin tanaman, yang merupakan sebuah komponen penting dari semua spesies tumbuhan daratan, bisa melepaskan metana jika terpapar terhadap panas atau sinar UV. "Saya pikir sekarang ini kita sangat perlu meneliti mekanisme yang digunakan tanaman hidup untuk mengemisikan metana, sehingga kita bisa menjelaskan lebih banyak mengapa tanaman menghasilkannya," kata dia.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgwPVm719B28zDNmdYtu4K3V0-kLxv5cxBx4rrQhaSCE7PJomkuNYvb0TdeGganqME3zFcysc5U5rvDODCIqYr26d81alJUMF5tQOtrYoBh1NYlob3sJMpF2bxZ4cZiz_Y-3S-5xTRgHr0/s1600/280px-Global_Warming_Map.jpg

Sumber artikel :






Minyak Atsiri dari Daun Jeruk Purut: Proses Penyulingan dan Ekstraksi

Minyak atsiri dari jeruk purut dapat diperoleh dengan melakukan penyulingan. Namun sebelum menjelaskan tentang proses penyulingan tersebut, ada baiknya jika meninjau lebih jauh tentang tanaman jeruk purut ini.

JerukPurut Penghasil Minyak Atsiri


Jeruk purut adalah salah satu anggota suku jeruk-jerukan, Rutacea, dari jenis Citrus. Nama latinnya adalah Citrus hystrix. Buahnya tidak umum dimakan, karena tak enak rasanya. Banyak mengandung asam dan berbau wangi agak keras.  Tinggi pohonnya antara 2-12 meter. Batangnya agak kecil, bengkok atau bersudut dan bercabang rendah. Batang yang telah tua berbentuk bulat, berwarna hijau tua, polos atau berbintik-bintik. Daun jeruk purut berwarna hijau kekuningan dan berbau sedap. Bentuknya bulat dengan ujung tumpul dan bertangkai. Tangkai daun bersayap lebar, sehingga hampir menyerupai daun. Daun ini banyak dipakai untuk bumbu masakan. Buah jeruk purut lebih kecil dari kepalan tangan, bentuknya seperti buah pir, tetapi banyak tonjolan dan berbintil. Kulit buahnya tebal dan berwarna hijau. Buah yang matang benar berwarna sedikit kuning. Warna daging buahnya hijau kekuningan, rasanya sangat masam dan agak pahit.
Proses Penyulingan dan Ekstraksi Minyak Atsiri
Jika daun jeruk purut itu disuling, dihasilkan minyak atsiri yang dari tidak berwarna (bening) sampai kehijauan (tergantung cara ekstraksi), minyak atsiri berbau harum mirip bau daun (jeruk purut). Minyak atsiri hasil destilasi (penyulingan) menggunakan uap mengandung 57 jenis komponen kimia. Yang utama dan terpenting adalah sitronelal dengan jumlah 81, 49%, sitronelol 8,22%, linalol 3,69% dan geraniol 0,31%. Komponen lainnya ada dalam jumlah yang sedikit.
Ekstrasi yang dilakukan menggunakan pelarut meliputi persiapan bahan, mencampur, mengaduk dan memanaskan bahan dan pelarut serta memisahkan pelarut dari minyak atsiri. Metode ekstraksi yang digunakan antara lain destilasi uap, destilasi dengan cara Likens-Nickerson, maserasi dan perkolasi.
Pelarut yang banyak digunakan untuk mengekstraksi minyak atsiri adalah etanol, heksana, etilen diklorida, aseton, isopropanol dan metanol. Penyulingan atau destilasi uap dilakukan dengan cara menimbang daun jeruk purut sesuai dengan kapasitas tangki penyulingan, kemudian dirajang (dipotong kecil-kecil). Proses penyulingan minyak atsiri dilakukan selama 6 jam. Minyak atsiri yang diperoleh dipisahkan dari air dengan menggunakan labu pemisah minyak. Destilasi menggunakan alat yang sama dengan destilasi uap, hanya rajangan daun jeruk purut langsung dicampur dengan air dan dididihkan. Dalam destilasi uap, rajangan dipisahkan dari air mendidih oleh suatu kawat kasa, hingga hanya terkena uapnya. Proses penyulingan dan pemisahan minyak atsirinya juga sama.
Cara Likens-Nickerson (alatnya disebut ekstraktor Lickens-Nickerso) merupakan ekstraksi minyak atsiri dalam skala laboratorium. Rajangan daun jeruk purut dicampur dengan air suling, lalu diletakkan dalam labu erlenmeyer 1 liter. Pelarut ditempatkan dalam labu didih 50 ml (labu ini berhubungan dengan labu erlenmeyer melalui pipa gas dan kondensor). Kedua labu dipanaskan sampai mendidih hingga minyak atsiri tersuling secara simultan selama 3 jam. Pemisahan minyak atsiri dari pelarutnya dilakukan dengan penguapan pada tekanan rendah. Pada cara maserasi, daun jeruk purut yang telah dihancurkan direndam dalam tangki tertutup dan didiamkan beberapa hari. Selama itu dilakukan pengadukan beberapa kali supaya larutan minyak atsiri merata. Selanjutnya dilakukan penyaringan dan pengepresan, hingga diperoleh cairan pelarut. Penjernihan dilakukan dengan pengendapan atau penyaringan. Sedangkan perkolasi adalah melarutkan minyak atsiri dari hancuran daun jeruk purut dengan pelarut yang mengalir. Seperti halnya maserasi, daun dihancurkan lebih dulu supaya ekstraksi berlangsung lebih cepat. Hancuran jeruk purut itu kemudian dialiri dengan pelarut pada sebuah perkolator. Setelah proses dianggap selesai, cairan yang diperoleh dipisahkan minyak atsirinya dengan cara penyulingan.


Sumber :
http://artikelkimia.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar